Kebutuhan Kita akan Rasulullah

Hajatul Basyariyah (Kebutuhan Umat) Terhadap Risalah Nabi Muhammad saw

Bismillah wal hamdu lillah rabbil ‘alamin, shalawat dan salam serta keberkahan atas makhluk paling mulia, penutup para nabi dan rasul-Nya; nabi Muhammad saw; pembawa hidayah dan rahmat, nikmat yang sempurna, dan cahaya yang terang benderang. Selanjutnya…
Telah masuk pada kita semua bulan Rabi’ul awal; bulan yang mengingatkan kita semua akan kelahiran cahaya pembawa petunjuk, nabi kita Muhammad saw.
Nabi Muhammad yang kita cintai datang ke dunia, pada saat dunia penuh dengan kerusakan dan kesesatan, dengan membawa risalah perbaikan dan petunjuk..
Nabi saw datang pada saat manusia berada pada dua kelompok: kegelapan yang begitu pekat yang dimiliki oleh para pemilik keangkuhan, yang merasa memiliki segala sesuatu dan hidup di muka bumi dengan penuh kesombongan dan kerusakan, dan yang kedua orang-orang yang mazhlum (terzhalimi), terpaksa dan terhalangi, tidak mampu menuntut haknya. Dan orang-orang yang zhalim terus melakukan kezhalimannya sementara orang-orang yang mazhlum bertahan terhadap apa yang menimpanya, hingga menyebar di tengah mereka sebuah ungkapan yang menakjubkan; “Kami adalah hamba dari sang raja!”
Pada tingkat negara, ada dua negara besar dan adidaya; Persia dan Romawi, keduanya saling berbagi daerah jajahan terhadap berbagai negara di muka bumi, melakukan monopoli dalam berbagai urusan dunia, merampas dan menghisap berbagai kekayaan dan sumber daya alam dari suatu negara yang dijajahnya dan yang tertindas, bangsa dari suatu negeri dijadikan budak, melakukan rekayasa dan menciptakan anak-anak bangsa dalam kondisi lemah dan tertindas, menyebarkan api pertikaian dan persengketaan yang berdarah di tengah mereka, serta memandang bangsa lain dengan pandangan apartheid dan oportunis.
Adapun pada tingkat dunia Arab tampak orang yang mampu melakukan kezhaliman memandang bahwa kemampuannya adalah bagian dari kebanggaan, bangga bahwa dirinya mampu melakukan kezhaliman dan tidak bisa dizhalimi (tertandingi), bangga dapat melakukan kerusakan tanpa ada yang bisa memberikan kepadanya hukuman! Adapun orang yang dizhalimi jiwanya merasa dikuasai oleh orang lain dan tidak merasa memilikinya, hidup dalam kondisi diam dan pasrah, sementara hati sang pelaku kezhaliman tidak pernah mau lunak dan memiliki belas kasih, padahal -secara diam-diam- keinginan orang-orang yang mazhlum berusaha mempersiapkan diri dan mencari akan hak-haknya untuk hidup secara baik dan terhormat!
Tidak ada seorang pun dalam hati mereka yang memiliki keinginan untuk melakukan perbaikan terhadap kerusakan ini, atau melakukan sesuatu yang membangkitkan umat manusia dan memberikan arahan kepada mereka, atau mengembalikan mereka pada petunjuk yang sebenarnya, dan bahkan tidak ada seorang pun yang berani untuk bangkit dan berkata kepada umat manusia: sungguh kalian dalam keadaan tersesat maka keluarlah kalian darinya!! Dan kalian dalam kondisi ini telah banyak melakukan kerusakan maka harus diperbaiki!
Sekalipun demikian, bukan berarti tidak ada sama sekali dalam lingkungan bangsa Arab yang tidak memiliki jati diri, jiwa mulia dan kejantanan (keperkasaan).. sebagaimana bukan berarti sama sekali tidak ada seseorang yang tampil untuk membela orang-orang yang dizhalimi, membantu memberikan perlindungan terhadap orang-orang yang tersesat tanpa ada yang dapat memberikan jalan sehingga dapat mencapai jalan yang ditempuh dan mendapatkan hak-haknya, seperti halnya yang dilakukan Al-Muth’im bin Adiy terhadap Nabi saw, saat beliau kembali dari Thaif, dan pada saat terjadi perjanjian fudhul (hilful fudhul); keduanay memberikan gambaran yang sangat jarang terjadi namun ada pada saat itu!
Al-habib Muhammad saw datang untuk umat manusia seluruhnya, dan memulai melakukan kerja pada proyek perbaikan yang baru, dengannya, beliau ingin memperbaiki manusia dan memperbaiki agama dan dunia mereka, baik untuk hidup pada masa awal dan masa akhir mereka (dunia dan akhirat). Rasulullah saw selalu mengajarkan kita dengan doanya;
اللهمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي
“Ya Allah.. berikanlah kebaikan pada agama ku yang menjadi bagian tempat berlindung segala urusanku, dan perbaikilah kehidupan dunia ku yang di dalamnya menjadi tempat aku hidup, dan perbaikilah negeri akhirat ku, yang kepadanya kami akan kembali”. (Muslim)
Dengan hadits diatas Rasulullah saw meringkas tujuan risalahnya; datang untuk memperbaiki kehidupan agama, dunia dan akhirat, dan untuk memberikan kebahagiaan umat manusia di dunia dan akhirat.
Risalah Persamaan dan Kesetaraan umat manusia
Bahwa dakwah Rasulullah sangat jelas membawa nilai-nilai persamaan dan kesetaraan di tengah umat manusia:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Al-Hujurat:13)
Dan berdiri pada asas yang jelas dan gamblang:
أَلا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلا لا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ، وَلا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلا لأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى
“Ketahuilah bahwa Tuhan kalian adalah satu, bapak kalian adalah satu, tidak ada perbedaan dan keutamaan bagi orang atas orang non Arab, dan juga bagi non Arab dengan orang Arab, bagi orang yang memiliki warna kulit putih atas yang berkulit hitam, dan yang hitam atas yang putih kecuali taqwa”. (Ahmad dengan sanad yang shahih).
Risalah persatuan dan kesatuan umat manusia
Bahwa dakwah nabi saw juga sangat jelas dan gamblang membawa agama Islam sebagai agama bagi para Nabi dan Rasul bukan hanya agama nabi Muhammad saw saja, karena itulah bagi siapa yang beriman kepada nabi Muhammad dan memeluk agama Islam maka pada hakikatnya dia beriman kepada nabi Nuh, nabi Ibrahim, nabi Musa dan nabi Isa serta para nabi yang lainnya:
شَرَعَ لَكُمْ مِنْ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْه
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya”. (As-Syura:13)
Risalah kebebasan dan menafikan fanatisme
Bahwa dakwah nabi saw selalu memerangi akan berbagai bentuk permusuhan, penindasan politik, pikiran dan ideologi serta sosial masyarakat.. memerangi berbagai bentuk kezhaliman yang terjadi di tengah masyarakat. Allah berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (Al-Isra:70)..
Begitu pula dakwah nabi saw memerangi berbagai bentuk fanatisme terhadap bangsa, kabilah dan keluarga; nabi saw bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالآبَاءِ، مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ، أَنْتُمْ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ، لَيَدَعَنَّ رِجَالٌ فَخْرَهُمْ بِأَقْوَامٍ إِنَّمَا هُمْ فَحْمٌ مِنْ فَحْمِ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنَ الْجِعْلاَنِ الَّتِي تَدْفَعُ بِأَنْفِهَا النَّتْن
“Sesungguhnya Allah SWT telah menghilangkan dalam diri kalian sifat sombong dan angkuh seperti pada masa jahiliyah dan terlalu bangga dengan orang tua, beriman ciri orang bertaqwa, dan pelaku jahat ciri orang yang sengsara, kalian adalah keturunan dari Adam dan Adam berasal dari tanah, sungguh meninggalkan kebanggaan pada suatu kaum yang sesungguhnya ia merupakan salah satu bara dari bara api jahanam, atau kalian akan menjadi terhina di hadapan Allah dari pada ….. (Abu Daud dan Tirmidzi dengan sanad yang Hasan).
Karena itu tidak ada perbedaan antara warna kulit putih dan hitam, bangsa Arab dan non Arab, Quraisy dan Habsy. Dan perkara itu semua merupakan sesuatu yang diterima oleh akal yang bersih, dan diterima oleh fitrah yang lurus, karena manusia adalah manusia, memiliki kebebasan dan kemerdekaan serta kehormatan dan kemuliaan.
Bahkan ketika umat manusia tenggelam dalam penyimpangan, hilang hakikat kebebasan dan berubah menjadi menghambakan sebagian mereka dengan sebagian lainnya, dan menjadikan perbudakan sebagai sistem yang tersebar di tengah masyarakat, kemudian Islam datang membuka seluruh kran kemerdekaan, mengarsiteki kebebasan bagi setiap orang yang menginginkan kebebasan, dan bahkan mewajibkan umat untuk memerdekakan dan membebaskan orang lain yang meminta dimerdekakan dan dibebaskan bahkan membebaskan bagi seseorang yang ingin menjual harga dirinya, hal demikian disebut dengan mukatabah
فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا
“Hendaklah kamu buat Perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka“. (An-Nuur:33)
Bahkan diperintahkan untuk membantunya dalam kondisi demikian itu
وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ
“dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu”. (An-Nuur:33)
Nabi saw datang untuk mengangkat dan meninggikan kehormatan manusia pada tingkat yang paling mulia dan paling tinggi, berdiri tegak melakukan perlawanan terhadap berbagai penyebab kezhaliman yang terjadi di dunia oleh karena permusuhan dari satu kelompok pada kelompok lain dan jamaah pada jamaah lainnya, mencegah seluruh penyebab perbedaan khusus yang diklaim oleh sebagian manusia, dan menyamaratakan hingga terhadap keluarga nabi saw dan yang lainnya dari umat manusia.
Risalah pembawa keadilan yang mutlak
Bahwa dakwah Nabi saw adalah dakwah yang membawa pada keadilan yang mutlak hingga sampai kepada para penentang dalam agama, kepercayaan dan manhaj sekalipun, dan dakwah yang secara gamblang memajukan kebenaran atas hawa nafsu, perasaan atas fanatisme, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertaqwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Maidah:8),
Maksudnya adalah janganlah kebencian sebagian kalian pada sebagian lainnya membuat kalain tidak bisa berbuat adil atau melakukan kezhaliman atas mereka; namun setiap muslim harus berbuat adil walaupun di hadapan para penentang dalam aqidah, mazhab atau bangsa sekalipun.
Bahkan ketika kaum Quraisy menghalangi dakwah nabi Muhammad dan para sahabat lain dengan cara yang zhalim untuk dapat amelakukan umrah dan thawaf di masjid al-haram, Allah tetap melarang mereka untuk berbuat zhalim dengan kezhaliman lainnya, Allah berfirman:
وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنْ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا
“Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka)”. (Al-Maidah:2)
Risalah yang mengajak untuk selalu bersabar walau harus berhadapan dengan siksaan para penentangnya
Bahkan sampai pada tingkat kesabaran dari para ahli kitab yang hidup di tengah komunitas Islam; selama penyakit ini hanya terbatas pada siksaan pribadi atau beberapa ungkapan yang menyakitkan namun tidak sampai keluar pada sistem pemerintahan umat atau demonstrasi musuh atasnya, Allah berfirman:
لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنْ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنْ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertaqwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk urusan yang patut diutamakan”. (Ali Imran:186)
Bahkan nabi saw sendiri memberikan peringatan kepada orang-orang yang menyangka bahwa non muslim di tengah masyarakat Islam tidak memiliki hak yang penuh, beliau bersabda:
مَنْ ظَلَمَ مُعَاهَدًا وَانْتَقَصَهُ وَكَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ فَأَنَا حَجِيجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang melanggar perjanjian dan menguranginya maka Allah akan memberikan beban kepadanya di atas kemampuannya, dan mengambil sesuatu darinya tanpa jiwa yang benar maka saya akan menjadi penentangnya pada hari kiamat kelak”. (Abu Daud dengan sanad yang shahih)
Maksudnya adalah bahwa Rasulullah saw akan membela kafir Dzimmi dan menolongnya di hadapan umat Islam yang melakukan kezhaliman.
Risalah yang melindungi kebenaran dan mempertahankannya
Adapun saat mereka keluar dari nizham umat atau memusuhinya atau menampakkan permusuhan atasnya maka tidak ruang berdamai:
إِنَّمَا يَنْهَاكُمْ اللَّهُ عَنْ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الظَّالِمُونَ
“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zhalim”. (Al-Mumtahanah:9)
Sungguh serupa hari ini dengan kemarin!
Ketika dibalik pandangan pada dunia kita saat ini, maka kita akan melihat kondisi jahiliyah pada nilai-nilai kezhaliman dan kerusakan, maka ketika umat yang membawa risalah Muhammadiyah mundur ke belakang sementara yang lainnya bersungguh-sungguh dengannya dan mengokohkan pondasi-pondasinya ke seluruh dunia, dan bangsa Barat mengalami kemajuan materi, dan menjadikan kekuatan materi sebagai pendukungnya, dan serta merta melakukan penjajahan dan kolonisasi terhadap bangsa-bangsa timur, merampas sumber daya alamnya, berusaha menghilangkan potensi hidupnya, membuat rancu tsaqafahnya, dengan melakukan pembantaian yang brutal, dan penjajahan yang tidak manusiawi seperti dialami oleh bangsa-bangsa di Asia dan Afrika sehingga seluruh umat memproklamirkan keinginannya untuk hidup layak dan merdeka, memproklamirkan untuk mendirikan lembaga-lembaga internasional untuk melindungi hak-hak mereka setelah terjadi perang dunia yang berdarah-darah hingga menjatuhkan korban milyaran jiwa, memproklamirkan untuk mendirikan perserikatan bangsa-bangsa, membentuk dewan keamanan dan lembaga-lembaga lainnya yang secara zhahir mengajak pada nilai-nilai kebebasan dan keadilan serta persamaan manusia.
Namun hal tersebut hanya slogan kosong belaka tanpa ada jaminan untuk dapat direalisasikan, sehingga menjadikan kekuatan militer yang besar yang dimiliki oleh negara-negara besar terutama Amerika sebagai pemilik dan penentu keputusan terhadap berbagai perkara, dalam bentuk apartheid, hal tersebut sudah sekian kali terjadi dan disaksikan oleh sekian banyak orang.
Qadhiyah Palestina dan keberpihakan yang zhalim
Bahwa gambaran yang sangat jelas akan keberpihakan kekuatan zhalim ini terdapat pada pendirian entitas Zionis yang dinamakan dengan negara “Israel” di bumi Palestina… padahal Israel adalah negara yang tidak punya asal-usul yang jelas, bukan sebagai bangsa yang hidup dalam suatu negeri dan terikat dengannya sebagaimana entitas yang natural, namun ia merupakan kelompok dari beberapa kelompok jahat yang berasal dari berbagai unsur di beberapa negara, yang tidak terikat kecuali ideologi Zionisme, mereka meninggalkan negeri asalnya untuk mendirikan entitas baru di bumi Palestina, yang terbentuk atas konsensus internasional yang zhalim pada tahun 1947 dengan rekomendasi dari negara-negara koloni yang besar terutama Amerika.
Kelompok tersebut mulai mendirikan entitasnya dengan melakukan pembantaian secara keji, melakukan operasi pembunuhan dan pengusiran secara paksa atas bangsa Palestina, dengan disaksikan dan didengar oleh dunia, dan tidak cukup dengan konsensus pembagian negara sepihak dan secara zhalim saja, namun Amerika dan negara-negara besar lainnya juga memberikan persenjataan yang besar dan modern agar dapat merampas sisa-sisa dari sebagian bumi Palestina laingga bahkan hingga melampaui bumi dan tanah Arab lainnya. Dan hal tersebut mereka lakukan dalam berbagai perang dan agresi yang silih berganti, melakukan pembantaian yang tiada henti di berbagai negara-negara Arab yang berdampingan dengan Palestina, walaupun harus dengan melanggar seluruh konsensus yang dikeluarkan oleh PBB terutama yang berkaitan dengan qadhiyah Palestina, dan mengumumkan dengan lantang penolakannya terhadap kembalinya para pengungsi sampai pada batas waktu tanggal 4 Juni 1967 yang lalu, tanpa ada fikiran sedikit pun dari anggota PBB untuk memberikan langkah-langkah kongkret untuk menekan dan memaksa Israel untuk mentaati dan menghormati berbagai konsensus yang telah dikeluarkannya, sekalipun konsensus tersebut adalah zhalim yang hanya diberikan kepada yang tidak berhak dan tidak memiliki hak untuk menerimanya.
Kezhaliman yang menakjubkan!
Setiap hari dunia Barat menampakkan kemunafikan dengan bentuknya yang baru, seperti ketika mengumumkan seruan demokratisasi dan kebebasan, mengumandangkan hak bangsa dalam mempertahankan jiwanya dan melakukan perlawanan terhadap penjajahan; maka pada sisi lain mereka mengingkari kebenaran ini atas bangsa Arab dan umat Islam, khususnya terhadap bangsa Palestina.
Ketika veto Amerika menghadang berbagai konsensus yang mengecam agresi dan pembantaian Zionis terhadap kemanusiaan, pepohonan dan bebatuan, disisi lain Amerika tidak pernah berhenti memasukkan dan menyifati pasukan perlawanan Palestina sebagai teroris.
Dan ketika para pemimpin Barat tidak bergerak dan tidak menoleh sedikit pun terhadap pemandangan tentang kehancuran dan korban anak-anak di bumi Palestina akibat senjata phosphor yang terlarang; justru mereka melakukan pertemuan untuk membuat kesepakatan mengepung dan memblokade para mujahidin dan mencegah sampainya senjata ringan ke tangan mereka, padahal mereka tidak pernah terlambat mengirimkan kapal-kapal perang, pesawat-pesawat tempur, intelijen dan tim teknis untuk menentukan blokade atas bangsa yang dizhalimi dan terisolir.
Ketika penuntut hukum di persidangan pidana internasional berusaha mengeluarkan konsensus internasional untuk menangkap presiden Sudan dengan tuduhan yang dibuat-buat dan mengada-ada melakukan pembantaian massal; tidak ada sedikit pun didengar dan yang lainnya bersuara lantang untuk mengajukan para pemimpin Zionis ke meja persidangan pengadilan pidana internasional, padahal merekalah yang telah melakukan kejahatan di depan mata dan didengar oleh setiap telinga dari negeri yang paling jauh dan paling dekat sekalipun, sementara dunia hanya melihat itu semua sekadar lewat saja di layar televisi dan didengar dari waktu ke waktu akan gelombang pemberontakan!
Dan pada waktu lembaga-lembaga Hak Asasi Manusia (HAM) dan lembaga-lembaga Hak Asasi Hewan yang berhubungan dengan lembaga-lembaga internasional dalam mengecam setiap operasi yang mengakibatkan jatuhnya korban dari pihak barat atau Yahudi; namun mereka diam seribu bahasa dan bisu seperti di alam kubur apa yang ditayangkan di layar televisi tentang kejahatan dan kekejaman Zionis yang brutal yang korbannya mencapai ribuan; dari anak-anak, wanita dan orang tua, Zionis menghalalkan segala cara untuk melakukan agresi dengan alasan mempertahankan diri, dan pada waktu yang bersamaan ketika para pasukan perlawanan melakukan pembalasan dianggap sebagai perlawanan yang tidak beralasan! Dan bahkan orang-orang yang tidak memiliki kekuatan untuk mengingkari dan mengecam kejahatan Zionis yang brutal dan pergi –dengan perasaan malu- mengecam apa yang dilakukan pasukan perlawanan yang mulia, dan mereka menyamakan antara korban dengan Gilad shalit yang ditawan oleh pasukan perlawanan, demikian seperti yang dilakukan oleh lembaga amnesti internasional dalam konsensusnya yang terakhir.
Kezhaliman adalah sebab depresi dunia
Bahwa Ikhwanul Muslimin ketika mengikuti semua bentuk kezhaliman yang terjadi di permukaan bumi ini dapat menegaskan kepada orang-orang yang berakal di muka bumi ini; bahwa kezhaliman, konsensus-konsensus yang zhalim serta keberpihakan pada yang zhalim adalah penyebab terjadinya depresi internasional, itulah penyebab terjadinya berbagai perang yang berkecamuk di berbagai belahan bumi saat ini, dan tidak akan tercapai kestabilan di negeri Arab kita ini; selama masih ada entitas yang zhalim yang selalu melakukan perampasan, dan selama masih ada kezhaliman internasional yang mendukung pelaku kezhaliman atas kezhalimannya, menolak mengembalikan hak kepada pemiliknya.
Hanya keadilan yang dapat menjamin kestabilan hidup manusia
Bahwa umat manusia saat ini sangat membutuhkan risalah nabi Muhammad saw dan nilai-nilai yang dibawanya; sehingga dapat memberikan kebahagiaan pada dunia dan meluruskan arah hidup umat manusia, dan tidak akan terwujud kestabilan di muka bumi ini kecuali dengan kembali pada nilai-nilai yang dibawa oleh nabi Muhammad saw; seperti persamaan, kebebasan, keadilan dan pemberian hak kepada pemiliknya.
Karena itu apakah para cendekiawan di muka bumi ini; baik dari politikus, pemikir dan ahli hukum melihat dan menolehkan wajahnya kepada dakwah yang mulia ini, dakwah yang mengajak kepada yang hak yang dibawa oleh nabi Muhammad saw?
Karena itu, para cendekiawan hendaknya membuka akal dan hati mereka agar dapat keluar dari tekanan dan kerusakan yang terjadi di dunia ini yang telah tertanam di leher umat manusia, dan kita terus menyerukan dakwah yang mulia untuk membawa umat ke jalan keselamatan.
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Katakanlah: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. jika mereka berpaling Maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa Kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (Ali Imran:64)
Allah Maha Besar dan segala puji Hanya milik Allah Tuhan semesta alam

Penerjemah:Abu Ahmad

Hendri Chaniago

"Hakikat Kematian"

“Hakikat Kematian”
By. Hendri.Y. Chaniago
18 4 ‘09

Setiap yang hidup pasti mengalami kematian cepat atau lambat. Kematian tidak dapat dipercepat ataupun diperlambat namun ia pasti adanya, jika sudah sampai waktunya maka iapun pasti mati. Mati adalah takdir yang telah ditetapkan oleh Allah swt, tidak ada satupun makhluk disemesta ini yang mengetahui kapan kematian itu akan menemuinya. Karena kematian adalah sesuatu yang tidak bisa diprediksi maka sudah semestinya setiap manusia menyiapkan diri untuk menghadapi kematian sebab kematian hanyalah proses menuju kehidupan yang kekal dn abadi. Setelah mati maka setiap manusiapun akan memulai kehidupan yang baru, berada dialam yang baru (alam kubur) akan tetapi tidak bisa berbuat seperti layaknya didunia.

Menyiapkan kematian
Orang yang pintar adalah mereka yang senantiasa menyiapkan diri untuk menghadapi kematian. Karena datangnya tidak diduga-duga maka sikap waspada adalah cirinya. Manusia yang selalu menyiapkan diri untuk menghadapi kematian akan berusaha untuk mengingatnya kemudian dengan segenap kemampuannya melakukan perbaikan diri dan memperbanyak amal kebajikan serta mengurangi kemaksiatannya kepada Allah swt. Orang yang pintar sadar betul kematian selalu mengintainya setiap saat, ia sadar bahwa kematian lebih dekat dari nadinya. Imam Al Ghazali mengibaratkan dekatnya kematian seperti seseorang yang melangkahkan kaki kanannya namun belum tentu ia bisa melangkahkan kaki kirinya dan sebaliknya. Itulah pengibaratan yang dibuat oleh mereka-mereka yang sadar betul akan datangnya kematian.
Membicarakan kematian tidak sebatas cerita, dialog ataupun bedah disertasi namun sudah seharusnya jika seseorang sedang membicarakan kematian seolah-olah yang dibicarakan adalah dirinya masing-masing. Seolah-olah dialah yang menjadi objek sekaligus subjek pembicaraan, jangan pernah diantara kita bermain-main dalam mebicarakan kematian ini sebab setiap kita pasti mengalaminya, setiap makhluk pasti menjalani proses kematian hanya tidak ada yang tahu kapan kematian itu akan menemuinya. Oleh sebab kematian pasti dan tidak ada perdebatan lagi maka seharusnya kita menyiapkan diri menghadapinya.
1. Memperbanyak ingat akan kematian
Zikrul maut adalah obat yang paling mujarab dalam melunakkan hati yang sudah keras. Apa yang ditanyakan seorang sahabiah kepada Umahatul Mu’minin ‘Aisyah tentang kerasnya hatinya maka Ibunda ‘Aisyah menjawab supaya dia banyak-banyak mengingat kematian. Imam Hasan Al bashri sengaja membuat kuburan didekat rumahnya, tatkala ia meresa gelisah oleh urusan dunia maka ia akan membaringkan dirinya didalam kuburan tersebut sehingga membuatnya kembali sadar bahwa ia pasti akan berada dalam lubang kubur itu kelak yang hanya bisa untuk berbaring.
Ingat kematian adalah sarana yang paling efektif untuk memberikan efek kesadaran bagi setiap orang supaya kembali memperbaiki diri, meninggalkan kemaksiatan yang dilakukannya yang menyebabkan hati menjadi keras, hati yang membatu, hati yang tidak mau lagi mendengar nasihat, hati yang tidak bergetar ketika ia selalu membaca ayat alquran. Hati yang seperti ini hanya mungkin disadarkan dengan satu hentakan yakni hentakan kematian. Oleh karenanya mereka yang hatinya sudah seperti ini seharusnyalah diingatkan tentang kematian.
Ingat kematian tidak akan membekas jika tidak dilakukan secara kontiniu. Harus ada program rutin dari setiap mukmin untuk menjadwal zikrul maut ini, misalnya setiap mau tidur malam ia ingat kematian yang barangkali akan menemuinya malam itu sehingga tidak ada waktu lagi untuk esok. Dengan mengingat mati yang pasti menemuinya maka sebelum tidur ia akan memperbanyak meminta ampunan kepada Allah swt atas segala kemaksiatan dan kedurhakaannya kepada Allah swt baik yang diketahui atau yang tidak diketahui, yang disengaja atau yang tidak disengaja. Itulah sarana yang akan membekas dalam diri setiap mukmin, menjaganya dari kesempitan dunia menjadi kelapangan hati, oleh karena itu seharusnya setiap mukmin menjadikan zikrul maut ini sebagai amaliah rutinnya.
Rasulullah memberi peringatan kepada setiap manusia supaya banyak-banyak mengingat pemutus kelezatan ini, kematian. Disamping menyebabkan hati menjadi lunak, banyak ingat kematian juga akan berdampak pada ketenangan jiwa, kepuasan batin, merasa rendah dan tidak sombong. Mengingat dampak yang ditimbulkannya ini maka dianjurkan juga bagi para pejabat yang korup, angkuh dan sombong supaya banyak-banyak mengingat kematian yang memutuskannya dengan kelezatan dunia, jika kematian datang kepadanya maka tidak adalagi gunanya harta yang banyak sebab harta tersebut tidak mampu menyogok Malaikat Maut, kekuasaan yang selama ini didewa-dewakannya tidak mampu mencegah datangnya maut. Itulah sebabnya zikrul maut ini dianjurkan Rasulullah SAW supaya menimbulkan efek jera bagi orang-orang yang lalai, bodoh dan sombong.

Hendri Chaniago

Membangun Jejaring Birokrat KAMMI

Membangun jejaring birokrat KAMMI
By. Hendri.Y Chaniago, 26 2 2009

Muslim negarawan hanyalah mimpi belaka, ia ibarat pungguk merindukan bulan yang takkan pernah menjadi kenyataan. Semangat memang dibutuhkan dalam meretas satu cita-cita akan tetapi cita-cita yang terlalu tinggi tanpa pijakan kuat akan menjadi khayalan selamanya. Dr. Akrim Ridho dalam salah satu tulisannya mengatakan “harus ada jembatan yang menghubungkan antara idealita dengan realita sehingga tidak akan menimbulkan jurang antara keduanya”. Peryataan ini selaras dengan apa yang selalu kita pelajari bersama bahwa cita-cita hari ini akan menjadi kenyataan hari esok, hanya saja cita-cita tersebut tidaklah berdiri sendiri ia memerlukan kematangan, ketajaman analisa-strategy sekaligus didukung dengan berbagai pilar penyangga sehingga menjadi kokoh. Menjadi muslim negarawan sudah disepakati kader KAMMI, namun begitu kita juga mesti realistis mematok keinginan, misalnya apakah sudah terdapat sistem yang memungkinkan Muslim Negarawan itu lahir dari metode pengkaderan kita selama ini? Dari tiga jenjang pengkaderan yang dilakukan oleh KAMMI sudahkah semua jenjang tersebut mengarah untuk melahirkan Muslim Negarawan? Jawabannya barangkali sudah mengarah kesana akan tetapi pola pengkaderan itu tidak serta merta langsung menuju capaian cita-cita karena jalan yang dilalui tidak semudah sebagaimana yang kita harapkan. Jalan menuju Muslim Negarawan itu tidaklah semudah membalik telapak tangan sehingga diperlukan sentuhan artsitektis guna mempermulus lajunya cita-cita. Dan salah satu sentuhan arsitektis tersebut adalah dengan mengoptimalkan jaringan. Semenjak lahirnya KAMMI 1998 yang lalu tentu sudah sangat banyak melahirkan kader, ribuan bahkan puluhan ribu kader yang terlahir dari rahim Dauroh Marhalah dan ini merupakan satu potensi besar yang dapat mempercepat dan memperluas jejaring demi pemulusan Muslim Negarawan. Jumlah yang demikian itu seyogyanya menjadi amunisi bagi sturktur KAMMI dalam merealisasikan cita-citanya.
Dalam berbagai kesempatan kita senantiasa membicarakan satu keinginan untuk menjadikan organisasi ini semakin kuat dan bisa menjadi penentu kebijakan (keyor policy). Namun ranah kebijakan belum berada ditangan kader-kader KAMMI. Selama ini kita hanya menjadi pendobrak, agen of change, atau ujung tombak atau lainya padahal kita memahami semua pola tingkah dan perbuatan yang ditujukan oleh kata tersebut menuju kepada satu arti bahwa kita hanya menjadi subjek penderita. Menjadi agen of change akan membuat jenuh, menjadi pendobrak hanya menjadikan kader linglung karena kehabisan tenaga, atau menjadi ujung tombak akan menyebabkan kader semakin tumpul karena keseringan dipakai tapi lupa untuk diasah. Nampaknya slogan-slogan itu telah menjadikan KAMMI sebagai sapi perah yang ompong. Ia hanya mengharap belas kasih dari mereka-mereka yang selama ini menjadikannya budak kepentingan elit tertentu.
Meretas cita-cita Muslim Negarawan harus kita dudukan dalam porsi sebenarnnya. Karena cita-cita itu bukanlah pepesan kosong yang menhanyutkan kita dalam buaian yang memabukan, tapi ia adalah spirit juang yang harus direalisasikan, sekarang mari kita mulai membahasnya.
Kekuatan Jaringan
“jika anda ingin berkuasa, perbanyaklah jaringan karena anda akan menguasai”. Jaringan (networking) adalah pilar utama dalam mewujudkan cita-cita KAMMI. Dengan banyaknya jaringan yang dimiliki akan memudahkan kader-kader untuk mengakses sistem ketatanegaraan, masuk kedalam wilayah pengambil kebijakan dan pemain utama dinegara ini. Kita harus sadar bahwa dinegeri ini ada sekelompok orang yang memang menjadi pemain kunci dalam menentukan kebijakan, kelompok inilah yang telah menjadikan bangsa seperti ini. Hanya mereka shadow, ada tapi tidak terlihat. Kelompok ini bisa berasal dari kelompok pengusaha, kalangan militer, atau pejabat negara yang sudah malang melintang dalam sistem ketatanegaraan kita.

Hendri Chaniago

Nasib Petani Pasca Pemilu 2009

Hiruk pikuk pesta demokrasi telah berakhir, berdasar hasil quick count pemenangnya adalah partai demokrat. partai incumben ini berhasil memperoleh 20% suara jauh melebihi partai-partai tua beringin rindang dan tanduk sapi. kemenangan ini tentu banyak menimulkan tanda tanya pada kita, faktor apa yang menjadikan partai demokrta menang dalam pemilku 2009. apakah faktor ketokohan SBY, kecerdasan membuat strategy, kemelimpahan dana atau ada yang lain.
akan tetapi bagi kita yang terpenting hari ini adalah nasib petani kedepannya seperti apa? apakah akan semakin sejahtera atau kembali suram atau semakin menderita. pertanyaan ini sangat perlu untuk diajukan sebagai warning bagi pengambil kebijakan kedepan. jelas nasib petani harus lebih baik dari hari ini.

Hendri Chaniago